Minggu, 06 Juli 2014

SEDARURAT APAKAH NEGERI KITA..?







:: SEDARURAT APAKAH NEGERI KITA..? ::

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan



Nyoblos..?
Apakah sudah saatnya kita Nyoblos..?
Segenting atau sedarurat apakah negeri kita, sehingga nyoblos menjadi prioritas..?
Bukankah ‘katanya’ standar darurat itu karena dipaksa..?
Apakah dipaksa menjadi suatu kaidah baku..?
Saudaraku…Hendaknya kita bisa membuka ruang perihal perbedaan ini, jangan menjadikan suatu yang hakikatnya lapang menjadi sempit sehingga memaksakan suatu dalil yang tidak semestinya menjadi mesti al hasil muncul sifat ghuluw hingga menjatuhkan vonis kufur terhadap perkara ini, ini yang sangat disayangkan…!!


Saudaraku…
Ketahuilah nyoblos dalam pemilu bukan berarti melegalkan sistemnya sebagaimana dikatakan oleh syaikh al Bani rahimahullah, hal seperti ini yang harus kita robah dalam pola pikir kita, bahwa “berpartisipasi nyoblos bukan berarti melegalkan sistemnya”.


Maka yang dilihat adalah hanya untuk mashlahat atau mafsadat ini semata yang menjadi suatu pertimbangan, mencari mashlahat atau mengurangi mafsadat yang ada, yang jadi pertanyaan:

“apakah mashlahat dan mafsadat mengharuskan adanya keterpaksaan atau darurat..?”

Saya ulangi secara berkali-kali “sistem demokrasi adalah suatu kebobrokan, sistem yang diluar islam maka hakikatnya adalah haram”, ini yang kita sepakati..!!”

Maka berbicara mashlahat dan mafsadat apa mesti dengan keadaan darurat atau keterpaksaan..?

Perlu kita ketahui bahwa darurat atau keterpaksaan tidak harus dihadapkan pada suatu kondisi yang membinasakan/menimbulkan kematian jiwa, missal terpaksa mengucapkan kalimat kufur namun hatinya masih iman, jika tidak diucapkan membinasakan dirinya, ini asalnya haram namun keterpaksaan menjadikan boleh dilakukan pada kondisi ini, maka ini lah darurat yang dikondisikan kepada kematian / binasa.

Dengan demikian bagaimana dikatakan darurat tidak mesti dalam keadaaan binasa/mengorbankan jiwa..?


Darurat tanpa adanya ancaman jiwa, bisa dibenarkan jika berbicara mafsadat yang timbul di hari esok yang besar dengan berbagai macam effectnya maka hal ini biisa dikatakan suatu yang darurat tanpa dihadapkan suatu ancaman kebinasaan jiwa.


Saudaraku…
Bukankah kita mengidamkan negeri yang aman…?

Bukankah diantara kita menginginkan keamanan di suatu negeri menjadikan kita bisa beraktivitas untuk duniawi maupun ukhrowi merupakan nikmat yang agung dan patut disyukuri..?


Sehingga kita sepakat bahwa Sebuah fitrah manusia bagi seseorang tentu menginginkan kebahagiaan, ketenangan dan keamanan. Sehingga kita dapat beribadah menjaga kkeluarga kita, anak istri kita dari jeratan api neraka, maka bagi anda yang menginginkan pendidikan keluarga, mendidik anak kita untuk beribadah kepada Allah maka lihat pondasinya yakni keamanan,


maka berbeda konteks ketika ada yang mengatakan “ urusi pendidikan keluarga.. jangan pikirkan jauh ke negara”.


Pendidikan keluarga adalah suatu kewajiban, dan negeri kita dalam hal ini, pada kondisi ini di terpa krisis pemimpin yang mana kalau seandainya kita lengah maka pemimpin buruk, akan masuk mengelola negeri ini maka urusan Negara saat ini bersifat kondisional, kalau sekiranya kita ingin continue keberlangsungan keamanan negeri kita maka kondisi saat ini mengharuskan anda memikirkan sesaat calon penguasa yang kecil keburu7kannya, setelah itu tercapai maka pendidikan islami akan menjadi continue, rasa aman senantiasa ada, maka lihatlah konteks ini.


Allah berfirman
” Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan “ ( Qs. Al Quraiys : 3,4 )
Berkata As Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : ” Maka Allah menjadikan kehidupan yang damai, memberkan rezeki dan keamanan dari rasa takut termasuk kenikmatan duniawi yang paling besar yang mewajibkan untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala”

Maka kalau sekiranya suatu penduduk negeri dihadapkan suatu ancaman mafsadat dalam hal krisis pemimpin, lalu pemimpin yang buruk dengan segala kekurangannya datang untuk menjadikan dirinya calon pemimpin negeri ini, dan pemimpin tersebut sebelumnya condong pada anti islam, berdiri pada partai dikenal anti terhadap perjuangan kaum muslimin serta membela komunitas kecil ‘wong cilik’ dari aliran sesat dan agama minoritas, sekiranya calon pemimpin ini menjadi presiden merupakan ancaman bagi kaum muslimin dan dapat dikatakan suatu darurat akan kegentingan yang mengancam kaum muslimin secara umum.

Disisi lain ada calon pemimpin yang lebih rendah keburukannya dibanding top record calon pemimpin yang anti islam, maka kita memilih calon pemimpin yang memang condong kepada kaum muslimin dengan segala kekurangan yang dimiliki dirinya, maka kita berusaha untuk memilihnya demi kemashlahatan kaum muslimin.

Akankah kita takut…? Sedangkan kita masih punya Allah…?
Kita senantiasa berdo’a :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar